Para sahabat muda yang
baik, ada kalanya pikiran kita menjadi kacau karena sebab-sebab tertentu. Kalau
pikiran sudah kacau, dunia ini terasa sumpek dan ngebetein abis, tuing tuing
tuing. Saat kita marah besar, pikiran-pikiran buruk terasa mendominasi benak
kita. Saat putus asa melandapun, pikiran-pikiran beracun terasa memenuhi benak
kita. Sebenarnya bukan hanya ketika marah dan putus asa saja pikiran negatif
ini nongol, akan tetapi ketika sikap yang kurang baik muncul, pikiran
negatifpun suka muncul. Weleh-weleh, cape dech kalau sudah begini. Rasanya
seperti di dasar laut yang gelap gulita.
Saat putus asa melanda
misalnya, hidup terasa kacaua balau. Tak hanya itu kawan, hati kita terasa
keruh bagai air kopi dalam gelas. Wuiih, serem bho. Itulah pengaruh bisikan
jahat setan terhadap jiwa kita. Misalnya, ketika kegagalan datang bertubi-tubi, kitapun bisa kehilangan
semangat dan bingung tujuh keliling. Ujungnya kita putus asa dan berucap,” Duh,
kayaknya aku tak mungkin berhasil mencapai apa yang kuinginkan. Mungkin
sebaiknya aku berhenti berusaha saja.” Itulah kata-kata yang bernada putus asa.
Jiwapun terasa lesu, badan terasa lemah, dan wajah tampak murung.
Jadi, kalau hati lagi
keruh bagai air kopi, kita harus bagaimana dong? Begini sahabat muda, kita semua
tak jarang mengalami kekacauan hati. Demikian juga dengan saya. Jika ini
terjadi, saya mencoba mencari tempat yang tenang yang jauh dari keributan.
Setelah suasana terasa tenang, saya mencoba melakukan relaksasi. Saya duduk
dengan tenang sambil otot seluruh badan dilemaskan. Kalau perlu saya menutup
mata agar pikiran saya bisa istirahat. Tentu saja jangan lupa berdoa memohon
petunjuk kepada Allah.
Ketika pikiran dan badan
telah terasa tenang, saya mencoba berdialog dengan hati sendiri. Ketika suara
kejujuran hati mulai terdengar, pikiran-pikiran jernihpun terasa muncul ke alam
sadar. Nah, sohib muda sekalian, ketika itu saya bisa melihat beberapa pikiran
beracun dalam benak saya yang wajib saya singkirkan. Agar lebih jelas, mari
kita lihat contoh dialognya:
“Apakah yang kuinginkan?”
saya mencoba bertanya ke dalam hati sendiri.
“Ketenangan,” ketika itu
saya baru menyadari memang saya ingin hidup tenang.
“Apakah dengan marah
besar, benci, putus asa, apa yang kita inginkan akan terwujud dan hidup kita
menjadi tenang? Apa manfaatnya berputus asa?” suara hati itu bertanya lagi
kepada saya.
Saya mencoba berpikir
dengan jernih untuk beberapa saat, lalu jawaban paling baikpun muncul,”
Tidak!!! Itu semua tak berguna, malahan hanya merusak kebahagiaan hati saja.”
“Kalau memang semua
pikiran jahat itu tak membuat hati jadi tenang dan tak akan pernah membawa kita
ke tempat yang kita tuju, kenapa pikiran-pikiran itu masih dipelihara?” suara
hati itu kembali bertanya.
Sayapun menyadari kebodohan
saya, karena tak mampu melihat mana pikiran yang baik dan mana yang buruk.
Setelah itu sayapun bertekad untuk melawan pikiran-pikiran beracun yang
mendorong hati untuk putus asa. Karena hidup adalah ujian, maka pikiran-pikiran
beracun tersebut tentu akan selalu dibisikkan oleh setan agar kita terjerumus
dalam perangkapnya. Demikian dari saya, semoga tulisan singkat dan sederhana ini
bermanfaat bagi sahabat sekalian.